 |
Celakalah kamu, hai bumi dan laut! Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.
-- Wahyu 12:12 |
|
 |
 |
We have 8 guests and 0 members online
You are an anonymous user. You can register for free by clicking here
|
|
 |
|
 |
Posted by: mangucup on Wednesday, November 25, 2009 - 12:47 AM
|
 |
 |
|
Apabila membicarakan masalah baptisan umat Kristen itu terbagi dalam dua kubu. Kubu Percikanis yang menganut kepercayaan Baptis Percikan atau Cipratan. Kubu Celupis yang menganut kepercayaan Baptis Celup atau Baptis Selam dimana seluruh tubuh harus dibenamkan ke dalam air (dicelup). Selain masalah cara pembaptisan yang dijadikan bahan perdebatan juga masalah obyeknya; apakah anak-anak dan bayi boleh dibaptis?
Pertama dari kubu Percikanis mereka tidak begitu terlalu merisaukan apakah dibaptis melalui percikan ataukah dicelup. Beda dengan aliran Celupis dimana mereka menilai bahwa baptis percikan itu tidak benar alias cacat. Maklum wong baru dipercik saja jadi boleh dinilai belum mandi beneran, namanya juga baru kecipratan air saja.
Dan tanyalah sama diri sendiri: Apa yang Anda rasakan pada saat ketika dibaptis dan sehari sesudah dibaptis?
Entah itu baptis celup ataupun percikan, semuanya memiliki perasaan yang sama. Pada saat ketika dibaptis kita merasakan perasaan sukacita maupun terharu sedangkan sebagian mungkin biasa-biasa saja. Maklum pada saat kita dibaptis, langit tidak terbuka ataupun ada suara yang menggelegar dari langit yang mengkonfirm bahwa kita sudah diterima menjadi anak Allah.
Setelah mang Ucup dibaptis timbul tekad ingin merubah cara hidup, dimana ingin bisa hidup tanpa dosa. Hanya sayangnya tekad ini hanya sekedar lipservice saja, sebab kenyataannya setahap demi setahap, akhirnya saya balik kepada manusia lama, dimana tetap saja bergelimang dalam dosa. Padahal saya sudah menjalani baptisan percikan maupun baptisan celup agar benar-benar sah tanpa cacad githu.
Disinilah saya sadar bahwa bukan cara baptisan atau jumlah airnya yang menentukan apakah kita akan menjadi bersih total ataukah tidak, melainkan dari komitmen diri kita sendiri. Memberi diri untuk dibaptis berarti; memberi diri untuk bertobat; memberi diri untuk berubah maupun memberi diri untuk diperbaharui.
Baptisan bukannya sekedar untuk mendapatkan ticket ke sorga ataupun mendapatkan fasilitas lebih daripada yang lain misalnya agar bisa lulus ujian ataupun sembuh dari penyakit. Kita menyatakan bersedia dibaptis bukanlah karena paksaan, melainkan karena keinginan yang timbul dari hati sendiri. Ketika kita dibaptis, kita memberikan diri kita untuk dikuasai oleh Allah. Dimana manusia lama kita telah mati yang digantikan oleh manusia baru yang telah menjadi milik Allah. Melalui baptisan ini kita menyatakan kesediaan kita untuk diikat dalam perjanjian dengan Allah.
Apabila kita sudah membuat ikatan baca kontrak dengan Allah, ini bukannya ikatan bodong ataupun ikatan main-main, sehingga harus dibuat ikatan baru lagi. Hal inilah yang menurut pendapat saya; tidak perlu diadakan baptisan ulang. Satu kali dibaptis ini berlaku seumur hidup kita entah ini baptis percikan ataupun baptis celup.
Mungkin banyak pembaca yang ngotot, bahwa baptis percikan itu tidak alkitabiah, tetapi tanyalah sama diri sendiri, apabila salah satu anggota keluarga Anda yang sudah benar-benar sekarat dimana hanya tinggal menunggu hari saja, apakah Anda tega untuk memaksakan dia dibaptis diselamkan/dilelepkan ke dalam air dingin? Bisa-bisa ia koit duluan sebelumnya bisa mengucapkan kata Amin.
Cobalah renungkan oleh Anda; ukuran air yang segimana yang dapat membuat baptisan itu sah? Semata kaki? TIDAK – Sedengkul? TIDAK – Sepinggang? – TIDAK, Sedada? – TIDAK yang benar adalah SEKEPALA. Disini bisa dinilai bukan ukuran airnya yang penting melainkan KEPALA nya, jadi entah itu baptisan percikan ataupun baptisan celup, apabila kepalanya sudah kena air berarti sudah sah tulen!
Pada saat kita menghadap DIA kelak, Tuhan melihat hati kita, bukan ritual atau prosesinya. Dia tidak akan menanyakan apakah kamu dibaptis celup ataukah percik? Yang DIA akan tanyakan apakah kita telah benar-benar menerima DIA sebagai Tuhan sang Juruselamat, dimana kita mau bertobat dan hidup takut akan DIA seperti layaknya orang yang telah ditebus dosa-dosanya?
Pertobatan adalah satu proses yang terus menerus berjalan selama hidup kita, jadi bukan hanya sekali saja baca Matius 4:17; bertobat = “metanoeo” dalam bahasa Yunani yang berarti TERUS merubah untuk memperbaiki diri. Jadi bukan cara baptisannya yang menentukan entah itu celup ataupun percikan. Disamping itu orang yang tidak dibaptis sekalipun kenyataannya bisa masuk sorga. Lihat saja pencuri yang disalib disamping Yesus (Lukas 23:43)
Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup.org
|
|
 |
 |
|
 |
| |
|
| Celupis vs Percikanis | Login/Create an account | 0 Comments |
|
| | Comments are owned by the poster. We aren't responsible for their content. |
|
|